SMA SERABI TIMUR



Pendidikan merupakan hal penting yang harus ditempuh oleh seseorang, terlebih untuk saat ini dengan semakin di butuhkannya sumber daya manusia yang berdaya saing, tentunya pendidikan adalah hal pokok yang harus dimiliki seseorang. Selain itu pendidikan juga menjadi salah satu tolak ukur atau indikator dalam pengembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Desa Serabi Timur merupakan desa yang tergolong lambat pertumbuhannya, hal ini disebabkan masih sedikitnya masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan, walaupun di desa setempat ada beberapa instansi pendidikan yang diantaranya adalah SD, MI, SMP, SMA, namun angka putus sekolah di desa serabi timur tersebut juga tergolong tinggi. Selain itu masih rendahnya siswa yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Oleh karena itu kami kelompok KKN 24 menbantu memberi arahan dan mengenai pentingnya pendidikan dan perguruan tinggi di SMA yang ada di desa serabi timur.
Tingginya angka putus sekolah tersebut di sebabkan oleh mainsite wali murid bahwa  “bekerja lebih cepat menghasilkan uang dari pada kuliah yang hanya akan menghabiskan uang”. Sehingga mainsite tersebut juga tertanam pada anak yang sekaligus siswa dan siswi di desa serabi timur. Selain itu yang juga menjadi permasalahan adalah orang tua atau wali murid yang tidak mempunyai keinginan untuk maju dan tidak sadar akan pentinggya pendidikan, sehingga mereka tidak memberi ijin anaknya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Menurut mereka perguruan tinggi hanya akan menghabiskan uang dengan jumlah besar, namun sangat memperihatinkan ketika faktanya siswa dan siswi di desa setempat tergolong cukup mampu. Hal tersebut terbukti ketika mengetahui bahwa siswa dan siswi di desa serabi timur tersebut dominan memiliki kendaran roda dua seharga lima juta keatas dan smartphone yang tergolong berkelas. Pekerjaan utama masyarakat di desa serabi timur adalah bertani, namun selain bertani, masyarakat di desa setempat juga banyak yang merantau keluar kota, bahkan luar provinsi, sehingga sangat sulit menemukan masyarakat pemuda di desa setempat. Namun masyarakat yang meratau sebagian  besar menjalani pekerjaan nonformal, sehingga hal tersebut sangat tidak logis jika masyakat memilih putus sekolah SMA untuk bekerja dari pada lulus sekolah SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi.

0 komentar:

Posting Komentar